Menemukan Tuhan (7)

Aku tidak menyadari bahwa aku pun bergerak dalam pekerjaan untuk menyebarkan kabar baik bersama dengan saudara-saudariku sendiri. Aku seperti dihipnotis untuk ikut serta berkarya didalamnya, dan aku melakukannya dengan senang hati.

Apakah benar ini yang aku inginkan?

Kami sekarang tidak sedikit lagi, jumlah kami sudah semakin banyak dan rasanya tidak mungkin untuk menampung kami pada satu tempat saja, kami perlu menyebar dan menyebar lebih jauh. Sudah banyak pekerjaan yang diambil alih saudara dan saudari yang lain, dan rasanya tidak ada lagi pekerjaan yang tersisa untukku.

Aku menyadari banyaknya pikiran ini muncul dan mengalir pada suatu sore, dan aku menarik diri dari kerumunan untuk memikirkan kembali apa, ada apa dan mengapa.

Mengapa ini semua begitu penting?, mengapa aku harus melakukan ini semua?, apakah saat ini aku sedang tidak berada dalam pelukan Roh kudus sehingga aku memikirkan dan mempertanyakan semua hal ini?. Bukankah Roh kudus adalah roh pengetahuan, dan roh pengetahuan adalah roh yang mendorong untuk mencari tahu, untuk mempertanyakan dan mencari jawaban, untuk mengerti dan memahami, untuk mendengarkan dan meresapi.

Apakah aku bersikap seperti ini karena Barnabas dan Saulus?. Saulus yang aku kenal adalah seorang murid baru, sama sepertiku. Tapi, Ia nampak sangat istimewa di mata yang lainnya, dan di mata Dia. Aku memprotes metode mereka untuk mengutus seseorang pergi, mereka berpuasa dan berdoa. Mereka meminta petunjuk, dan sampai tiba perintah itu. Aku mendengar bahwa mereka mengambil keputusan yang sama, mengirim keduanya pergi. Apakah aku bersikap seperti ini karena bukan aku yang pergi?, meskipun kalau aku ingin, Saulus bisa saja membawaku bersamanya. Aku tahu Saulus dan aku adalah teman mengobrol yang sangat cocok.

Tapi, setelah memikirkan ini semua, aku melihat apa yang terjadi padaku saat ini. Pada kesempatan ini, aku berada di sini, merenungkan apa yang terjadi.

Aku teringat pada kejadian beberapa waktu yang lalu ketika mereka menceritakan kembali apa yang Ia ajarkan pada mereka. Sampai saat ini, aku masih sangat terpukau dengan kisah mereka, dan karena kisah mereka aku sedikit demi sedikit membangun karakter tentang Dia. Dia yang hidup.

Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang,..” begitulah Ia menyatakan diri kepada murid-muridnya. Ya, Ia mengumpamakan kami sebagai orang-orang yang hidup dalam kegelapan karena ketidaktahuan kami, karena keengganan kami, karena kerinduan kami dan masih banyak lagi. Lalu, Ia adalah jawaban, Ia adalah terang yang bersinar, yang sangat dinanti semua orang.

Tapi, bukankah mereka yang sudah terbiasa hidup dalam gelap, akan sangat kesulitan untuk menerima terang?, dan inilah yang kami hadapi pada saat ini. Kami sudah menerima dan menjadi sangat terbiasa melihat terang, kami menemukan kebaikan, dan keindahan dalam terang, tapi mereka yang tidak nyaman dengan keadaan ini memusuhi kami. Mereka tidak menyukai kenyamanan mereka diganggu.

“..Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” ini juga adalah pernyataannya kepada murid-muridnya. Aku memikirkan hal yang berbeda. Ia datang jelas untuk menghakimi dunia. Ia memisahkan kelompok yang tetap memilih untuk hidup dalam kegelapan dan mereka yang menerima terang dan hidup dalam terang. Mereka yang hidup dalam terang, adalah bagian dari diriNya. Tapi mereka yang berada dalam kegelapan, Apakah juga adalah bagian dari diriNya?.

“Barangsiapa menolak aku,…ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan; itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman”.

Bagi mereka yang tidak mengenal Dia, akan langsung mengatakan, “Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?”. Tapi, selama hidup dalam kelompok ini, belajar dari mereka dan mendengarkan kisah mereka tentang Dia. HidupNya adalah perwujudan dari setiap perkataan yang Ia ucakan. Ajarannya adalah juga cerminan dari diriNya. Ia adalah perkataanNya.

Merenungkan hal ini, di sudut ruangan ini, aku menemukan sedikit keringanan. Aku mungkin mengalami krisis dalam mempercayai apapun yang aku alami sekarang. Semuanya terlalu banyak, dan aku tidak mengharapkan dapat memahami semua ini selesai dalam satu malam.

Hidupku adalah proses, aku belum mencapai akhir, dan aku ingin lebih mengenal diriku sendiri dengan mengenal Dia.

Soal Saulus dan Barnabas, mereka sudah mendapatkan bagiannya, dan aku pun mendapatkan bagianku. Aku memiliki banyak hal yang harus aku kerjakan, dan aku tidak merasa ditinggalkan. Seseorang memanggilku ketika aku mencapai kesimpulan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.