Menemukan Tuhan (5)

Dua hari ini aku memilih untuk tidak bertemu dengannya. Aku dengar, Ia menggunakan waktunya dengan kembali menjadi sepertinya dirinya yang dulu, sebelum peristiwa heboh ‘kebangkitan’ itu terjadi. Ia mengajar.

Entah Pendidikan seperti apa yang Ia tempuh, dan pada siapakah Ia berguru. Tapi, jelas-jelas Ia seperti memiliki kuasa ketika mengajar. Ketika berbicara kepada orang banyak. Ia pun hebat ketika berbicara dari hati ke hati.

Hari ini, aku duduk bersama mereka yang lain. Aku mendengar desas-desus dikalangan mereka, katanya Ia akan pergi ke tempat yang jauh. Itu rencananya, dan banyak diantara mereka yang ingin ikut pergi bersama dengannya. Apakah Ia ingin pergi ke luar negeri ?. Ah, aku mungkin akan sangat merindukan celotehannya, berbicara tentang sesuatu yang asing, tapi juga terasa sangat dekat dan sangat ku kenali.

“Akulah gembala yang baik” demikian Ia memulai pengajarannya. Ia terdengar sangat percaya diri dengan pernyataannya. Sebelum bertemu dengannya, aku pun bertemu dengan gembala-gembala yang lain, mereka yang menyatakan dengan percaya diri bahwa “aku adalah utusan Tuhan”, “Aku adalah kaki dan tanganNya”. Aku sudah biasa dengan pernyataan seperti ini, dan jujur saja di’kecewakan’ sesudahnya.

“Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”, Ia melanjutkan lagi pernyataanya. Aku terkejut sampai di sini. Dalam lubuk hatiku, ada suara yang nyaring sekali terdengar berkata, “Ia benar, pernyataan ini sungguh benar”. Aku terlalu sering bertemu dengan para gembala yang adalah penipu. Mereka adalah orang yang manis hanya dibibirnya saja, tapi ketika domba-dombanya kehilangan arah dan tujuan, mengalami kesesatan, mereka malah masuk ke gubuk mereka yang hangat dan nyaman, diam disana entah sampai kapan. Belum pernah aku menemukan seorang gembala yang bersedia memberikan hidupnya kepada domba-dombanya, seolah-oleh domba-domba ini sangat berharga dan berarti baginya.

Pengajarannya membuatku menyadari satu hal, “Ia menganggap bahwa pengikutnya adalah sama berharganya dengan nyawanya. Atau, bahkan lebih penting dengan nyawanya sendiri”. Ia sungguh gila! Mana ada manusia yang mau melakukan hal demikian. Tidak ada!

Tapi, inilah yang aku temukan dari pengajarannya hari ini, dari dirinya. Ia mengenal domba-dombaNya, dan sangat dekat dengan mereka. Bahkan aku yang merasa sangat asing ini sering disapanya.

“Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku “, ketika Ia mengatakan kalimat ini, Ia menatap mataku. Perasaan yang timbul dari dalam hatiku setelah itu, sungguh asing. Aku tidak pernah merasa ‘berharga’ di mata orang-orang yang aku kenal. Tapi di sini, seseorang yang tidak begitu ku kenal, lebih mengenalku dibandingkan diriku sendiri. Aku rasa Ia benar ketika mengatakan bahwa Ia mengenal domba-dombaNya.

Apakah aku juga adalah bagian dari domba-dombaNya?. Aku tidak peduli. Aku ingin, sangat ingin menjadi bagian dari domba-dombaNya, dan aku ingin agar saat ini juga, Ia yang menjadi gembalaku.

Sesederhana itu saja.

Satu pemikiran pada “Menemukan Tuhan (5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.