Menemukan Tuhan (3)

Kisah pertobatannya memang sangat luar biasa, tersebar kemana-mana dan menggugah banyak orang. Bagaimana Ia berbalik dari tindakannya yang lama dan menjadi orang yang sangat berbeda adalah bukti bahwa ada peristiwa besar dibalik perubahannya.

Aku adalah orang yang ikut melihat kejadian yang merupakan titik baliknya, dan yang tahu betul sebelum itu orang seperti apakah Ia.

Ia orang yang cerdas, kritis, setia dan sangat kuat untuk mencintai, demikian kesan pertama ketika pertama kali bertemu dengannya. Ia membuatku berpikir bahwa kelak, Ia pasti akan menjadi orang besar. Orang-orang yang bertemu dan berdiskusi dengannya akan berpikir demikian.

Tapi, dalam lubuk hatinya, Ia menyimpan rasa tidak puas yang mendalam dan rasa haus yang tidak pernah bisa Ia puaskan. Kerongkongannya kering hampir setiap waktu dan ketika turun perintah untuk melakukan pembasmian terhadap ajaran baru yang panas kami bicarakan, Ia tidak berpikir dua kali.

Ketika mempersiapkan perjalanan seperti biasanya, ini bukan perjalanan kami yang pertama lagi. Tapi pada perjalanan kali ini, aku bisa melihat bahwa ada kecemasan yang mengganggu hatinya. Ia menolak untuk membicarakannya dan memintaku untuk melakukan apa yang biasanya kami lakukan. Seperti biasanya.

Ketika hampir tiba di kota tujuan, dalam perjalanan, pada saat itulah momentum itu terjadi.

Sebuah cahaya yang sangat terang dan menyilaukan mata tiba-tiba saja menghentikan perjalanan kami. Kami begitu ketakutan, ini adalah fenomena baru yang tidak pernah kami dapatkan selama masa-masa pelatihan. Kami menutup mata dan berharap agar ini semua segera berakhir. Lalu, terdengar suara, kuat, lantang tapi juga lembut. Aku mendengar Ia berbicara dengan suara itu, aku berada tidak jauh darinya waktu itu, tapi karena ketakutan, aku tidak sanggup untuk membuka mulut dan bersuara.

Tidak lama kemudian berhenti, dan semuanya kembali seperti semula.

Tepat ketika mata kami terbuka kembali, di sanalah aku mendapatinya. Aku berlari menghampirinya ketika aku melihat Ia meraba-raba permukaan tanah tempat Ia tergeletak. Ia tidak berdaya.

Pada saat itulah aku melihat apa yang dilakukan oleh cahaya itu pada matanya, Ia menjadi buta seketika.

Ia berubah menjadi sosok yang pendiam setelah itu. Ia tidak menghiraukan pertanyaan kami dan bahkan tidak merespon apapun yang kami diskusikan. Ia berubah total, yang pada saat itu aku kenali sebagai tanda dan gejala syok. Ia tidak mau makan, bahkan tidak setetes air pun singgah di kerongkongannya. Kami merasa tidak nyaman dengan apapun yang terjadi, belum lagi kami memiliki misi yang harus diselesaikan.

Ia meminta kami untuk pergi ke sebuah tempa, dan disanalah Ia meminta berpisah. Ia meminta dalam nama persahabatan untuk melepaskannya di sana. Ia ingin agar kami melanjutkan misi sampai selesai dan melaporkan apa yang terjadi, dan Ia ingin agar kami menganggapnya berkhianat pada saat itu, demi keselamatan kami.

Aku tidak menggubrisnya. Aku dan Ia sama keras kepalanya, dan aku memutuskan untuk berkhianat bersamanya juga. Aku tidak tahu hidup akan seperti apa setelah ini, tapi aku sangat tergoda untuk menjalani hidup tanpa harus menjadi pesuruh orang lain. Ia tidak menolak atau mengusirku.

Pada rumah tempat kami menginap sementara, di sanalah kami bertemu dengan seseorang yang tua tapi juga sangat lembut dan bijaksana tutur katanya. Ia sederhana, dan nampak sangat tidak berbahaya. Ia datang dengan cerita mengenai pertemuannya dengan Tuhan, sesuatu yang sangat aneh. Lalu Ia menumpangkan tangannya pada sahabatku. Seketika matanya terbuka dan Ia menjadi sembuh.

Siapakah orang ini? Apakah Ia tabib? Kemampuannya sangatlah luar biasa. Ketika aku bertanya padanya, Ia hanya menjawab bahwa Ia hanya seorang pembawa pesan, seorang pelayan.

Orang tua inilah yang kemudian membawa kami pada orang-orang lain. Orang-orang yang tidak pernah aku bayangkan dapat aku temui, orang-orang yang seharusnya kami bumi hanguskan. Lucunya, kami malah tinggal menumpang dan hidup bersama mereka.

Berita mengenai pertobatan sahabatku tersebar luas dan tidak tertahankan. Mereka menggunakan berita ini untuk menarik banyak orang untuk belajar dan melihat ajaran mereka. Aku tidak heran mendengar bahwa tuan kami marah besar dan memutuskan untuk memburu aku dan sahabatku. Tapi, aku sungguh tidak keberatan. Melarikan diri pada saat ini adalah tujuanku, dan aku ingin pergi ke negeri seberang. Aku ingin bebas pergi dan tidak terikat pada siapa-siapa.

Dan perjalananku dimulai saat ini.

Aku mengenal sahabatku, dan aku ada di sana ketika peristiwa luar biasa itu terjadi. Aku pun ada di sana ketika Ia kehilangan penglihatannya dan mendapatkannya kembali, aku ada di sana, di setiap jalan-jalan berbatu yang harus Ia tempuh. Aku melihat kekerasan hatinya, kesetiaan dan kecintaannya yang sangat berlebihan. Ia yang berubah, Ia yang menjadi lebih baik, dan Ia yang menjadi dirinya sendiri.

Aku melihatnya.

Satu pemikiran pada “Menemukan Tuhan (3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.