“Tuhan, Dimanakah Engkau berada?”

Pada masa-masa seperti ini, ketika harapan seolah hanya ilusi yang diciptakan pikiran untuk menghadapi masa-masa sulit, pertanyaan ini terus menerus menggelitik,

“Dimanakah, Tuhan?”

Pada masa-masa seperti ini, ketika agama seperti tidak dapat menyelamatkan orang sakit dari kematiannya, pikiran seperti ini terus menggelitik,

“Dimanakah, Tuhan?”

Berteriak sampai suara serak, tapi yang diterima adalah keheningan.

“Tuhan ada dalam keheningan” begitu kata mereka.

Tapi, entah mengapa keheningan kali ini hampa, kosong dan tidak berisi. Tuhan seorang sudah meninggalkan pos-nya, dan kita berada di sini seorang diri, terlantar dan terkatung-katung mencari jawaban.

“Mengapa?”

Mungkin, setelah semua ini berakhir, kita baru menyadari bahwa Tuhan sebenarnya sedang bekerja, dan Ia terlalu sibuk untuk mendengarkan keluhan kita ‘meminta’ tanpa sedikitpun menunjukkan keinginan untuk ‘bekerja’ dan menemukan.

Kita terlalu manja, dan keheningan seharusnya mengajarkan kita makna dari penderitaan.

Satu pemikiran pada ““Tuhan, Dimanakah Engkau berada?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.