Tunduk, Membungkuk

Mengapa saya harus tunduk dan membungkuk ?

Kapan saya membungkuk ?

Seingat saya, saya membungkukkan badan ketika saya masuk ke dalam Gereja. Ketika melihat Sakristi, saya membungkukkan badan. Lalu, ketika saya ingin menyantap tubuh Kristus, saya pun membungkukkan badan.

Tujuannya, penghormatan, pemujaan.

Tapi setelah saya renungkan kembali, tidak demikian saja artinya.

Membungkuk pada suatu subjek, menunjukkan bahwa saya merendahkan diri saya, merendahkan ego dalam diri saya untuk mengakui bahwa subjek di hadapan saya adalah lebih besar, lebih mulia.

Saya membungkukkan badan karena saya ingin menumpahkan gelas di tangan saya, mengosongkannya, agar saya ketika berjumpa dengan subjek di hadapan saya, dapat belajar hal baru dan mengisi gelas kosong saya ini.

Saya membungkukkan badan, karena saya tahu bahwa di hadapan saya adalah makhluk ciptaan Tuhan. Ia adalah gambaran rupa Allah, saya harus menghargainya. Saya tidak boleh melukainya. Saya memperlakukannya seperti saya memperlakukan diri saya sendiri.

Itulah juga alasan mengapa sikap membungkuk itu tidak boleh sembarang. Membungkuk haruslah penuh arti, penuh niatan dan penuh nilai.

#AyubelajarZen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.